08/09/11

Kerugian Marah-Marah


Buat yang sering marah lebih baik baca artikel ini sampai habis, karena Selain merugikan orang lain, ternyata sering marah juga merugikan diri sendiri lho. 

Penelitian menunjukkan orang yang memiliki ‘musuh’ atau sering memarahi orang lain cenderung mengalami gejala gangguan pencernaan, sakit kepala, dan juga nyeri punggung.

Dalam penelitian terhadap 71 orang terungkap efek langsung dari kemarahan.

"Ketika para responden fokus pada hal-hal yang tak termaafkan, tekanan darah mereka naik, demikian juga dengan detak jantung," kata Charlotte vanOyen Witvliet, kandidat profesor psikologi dari Hope College, seperti dikutip WebMD.

Penelitian juga menunjukkan orang yang sudah mampu memaafkan mengaku berbagai gejala gangguan kesehatan tersebut berkurang. Sikap memaafkan ternyata membantu menurunkan tekanan darah, menguatkan sistem imun, dan menurunkan sirkulasi hormon stres dalam darah.

Ketika para responden diminta merespon sesuatu dengan maaf, otot-otot menjadi rileks dan napas lebih teratur. Bukan hanya itu sikap mengampuni juga terkait erat dengan kesehatan mental yang baik.

Memaafkan akan mengurangi kemarahan, depresi, dendam, kebencian, dan berbagai emosi negatif lainnya. Intinya, memaafkan membuat seseorang lebih berbahagia.

Namun banyak orang yang menganggap memaafkan itu sulit. Tentu saja memaafkan dari hati terdalam tidak dapat dipaksakan. Bila situasinya sangat menyakitkan, mungkin untuk sementara cukup kita melihat memaafkan sebagai murni fenomena internal diri.

Seseorang bisa memunculkan dorongan untuk memaafkan dengan cara mengatur pikiran bahwa pemaafan adalah bentuk kasih sayang, diperlukan untuk mengembangkan kedamaian hubungan, serta mencegah balas dendam.

Everett L.Worthington Jr, profesor psikologi dan penulis buku Forgiveness and Reconcilliation:Theory and Applications, membagi sikap memaafkan dalam dua tipe.

Pertama, keputusan memaafkan (decisional forgiveness). Seseorang memilih untuk melepaskan pikiran yang menyebabkan marah. Misalnya kita mengatakan pada diri sendiri ‘Saya tidak akan membalas dendam’, atau ‘Saya akan menghindari orang itu’.

"Kita bisa memilih keputusan memaafkan tetapi masih ada emosi yang tidak memaafkan di dalam hati," kata Worthington.

Kedua, adalah memaafkan emosional, yakni mengganti emosi negatif seperti dendam, kebencian, marah, dan takut, menjadi perasaan simpati, empati, kasih, dan cinta.

"Dalam memaafkan emosional lebih berdampak pada kesehatan karena ketika kita tidak bisa melakukannya akan timbul reaksi stres kronik akibat obsesi pada hal-hal menyakitkan yang terjadi. Kita terus memandang diri kita sebagai korban," katanya.

Buat yang susah mengendalikan marah, ayo baca penyelesainnya  DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Masa sih cuma baca2 dooang..Kasih Komen lho.....hehe...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Menarik lain