13/11/11

Tingkat Kecerdasan (IQ) ternyata bisa Berfluktuasi

Selama ini, banyak orang menganggap level IQ (intelligence quotient), bersifat tetap. Namun, faktanya tak demikian. Ternyata, level IQ secara signifikan berfluktuasi di masa remaja. 

Artinya, level IQ seseorang bisa naik dan bisa turun. Hal ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan tim dari Wellcome Trust Centre for Neuroimaging di Inggris. Memang, sampai saat ini level IQ masih jadi patokan.

Jika hasil tes menunjukkan skor yang tinggi, seorang anak dianggap jenius. Sementara, jika skor IQ rendah, seorang anak dianggap tak terlalu pintar. Padahal, menurut penelitian, fakta soal IQ lebih rumit dari hal itu. 

Penelitian ini melibatkan 33 anak yang berusia 12 hingga 16 tahun. Tim melakukan tes IQ pada mereka. Empat tahun kemudian, mereka menjalani tes yang sama dan hasil tes menunjukkan satu dari lima anak mengalami fluktuasi dari satu kategori IQ, seperti kepintaran rata-rata. Beberapa anak, menunjukkan peningkatan IQ sebesar 21 poin dan ada juga yang turun 18 poin. 

"Perubahan sebesar 20 poin merupakan perbedaan besar. Jika level IQ seseorang yang awalnya 110 menjadi 130, maka ia berubah dari kategori rata-rata menjadi superior. Lalu jika poin awal 104 menjadi 84, maka berubah dari kategori normal menjadi rendah," kata Profesor Cathy Price, salah satu peneliti, dikutip dari cbsnews.com.

Hasil pemindaian otak pada anak-anak menunjukkan bahwa perubahan IQ juga bisa dilihat dari perubahan struktural dalam otak. "Perubahan dalam level IQ adalah sesuatu yang nyata," kata Dr. Sue Ramsden, asisten peneliti.

Lalu, apa pemicu naik dan turunnya level IQ? Menurut peneliti, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengerahuinya. Tetapi hal ini bisa jadi indikasi, bahwa hasil tes IQ pada beberapa orang bisa jadi karena ia terlalu cepat tumbuh atau mungkin terlambat. 

Jadi, orangtua tak perlu terlalu cepat menyerah pada anak yang hasil IQnya rendah. Sangat penting untuk menanamkan pada seorang anak, kalau ia adalah seorang yang pintar, demi perkembangan psikologisnya. 

"Kita (sebagai psikolog) harus berhati-hati dalam menulis 'buruk' terutama pada hasil tes IQ tahap awal. Pada kenyataannya, IQ mereka dapat meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun," kata Price.

Lelaki jadi Lebih Baik Setelah Jadi Ayah

Hadirnya seorang anak dalam kehidupan pernikahan tak hanya memberikan kebahagiaan, tetapi juga menyebabkan perubahan drastis pada gaya hidup orangtua.

Menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya bisa membuat pria menjauhi kecanduan mereka akan rokok, minuman keras, bahkan kejahatan. Seperti dilansir dari Daily Mail, penelitian ini mengungkapkan bahwa sifat kebapakan dapat mengekang perilaku buruk mereka. Ayah berusia 20-an atau 30-an akan lebih dewasa dibanding mereka yang lebih muda dan lajang.

Para peneliti asal AS ini mengatakan hasil survei,  terutama untuk pria yang berusia lebih tua, cenderung berubah lebih baik karena mereka merasakan keharusan menjadi lebih dewasa. Mereka dituntut menjadi contoh yang baik bagi anak. Inilah mengapa mereka bersedia tanpa disuruh meninggalkan kebiasaan buruk mereka.

Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Oregon Stage ini meneliti 200 pria berusia 12-31 tahun yang diklasifikasikan berisiko memiliki perilaku destruktif. Mereka memantau relawan setiap tahunnya selama 19 tahun, melihat bagaimana asupan alkohol dan rokok berubah seiring bertambahnya usia.

Diterbitkan pada Journal of Marriage and Family, penelitian ini menemukan pria berusia 20-an dan awal 30-an ketika menjadi seorang ayah menunjukkan penurunan lebih besar pada konsumsi rokok dan alkohol.

"Menjadi sorang ayah dapat menjadi pengalaman transformatif bagi seorang pria. Ini menjadikan peluang bagi istri yang ingin merubah kebiasaan buruk suami karena sebagai ayah yang baik mereka bersedia melakukan apapun untuk anak mereka," ujar Professor David Kerr, penulis penelitian

12/11/11

mayoritas wanita bergosip 32 menit setelah janji tutup mulut.

 Saat mengalami sebuah masalah pelik, seseorang lebih mungkin berbagi rahasia dengan orang yang sangat mereka percaya. Dan, kebanyakan lawan bicara wanita tempat mencurahkan rahasia pasti berjanji akan menjaga rahasia Anda. 

Namun, berhati-hatilah saat memercayai seorang wanita. Bisa jadi, ia menjadi orang pertama yang menyebarkan hal yang baru Anda sampaikan. Para peneliti menemukan, 85 persen wanita sangat senang menyebarkan hal rahasia yang dia dengar kepada orang lain. Periset melihat, mayoritas wanita akan langsung bergosip hanya 32 menit setelah berjanji tutup mulut.

Suami, ibu dan teman adalah orang-orang yang sering dipercaya untuk menumpahkan perasaan wanita, tergantung dari masalah yang mereka hadapi. 

Studi terhadap 3.000 wanita yang dilakukan sebuah merek perawatan kulit 'Simple' menemukan, satu dari 10 wanita mengakui tidak mampu menyimpan rahasia, tidak peduli seberapa pribadi rahasia yang mereka dengar. Dan, 85 persen mengatakan mereka menikmati mendengar gosip dari orang lain.

Meskipun berisiko, survei juga mengungkap, hampir separuh wanita tak tahan untuk tak memberitahu rahasia mereka kepada orang lain. Sementara 13 persen mengaku sengaja membongkar rahasia agar segera menyebar sebagai gosip. 

Seorang juru bicara Simple mengatakan, "Jajak pendapat ini jelas menunjukkan bahwa wanita harus berusaha keras agar mampu menyimpan rahasia," katanya seperti dikutip Daily Mail.

"Kita merasa bersalah menyebarkan rahasia orang lain, sehingga harus ada perbedaan antara obrolan biasa dengan membicarakan rahasia orang lain."

Dr Christine Bundy, dosen senior di bidang kesehatan dan psikologi Universitas Manchester, mengatakan, "Wanita harus memutuskan apa yang harus mereka simpan sendiri atau harus dibagi pada anggota keluarga atau teman."

Dia menambahkan, " Jika khawatir menceritakan sesuatu hal akan menyebabkan gosip, lebih baik jangan lakukan. Semua orang tentu tak menginginkan pengkhianatan yang terjadi menjadi bahan gosip orang lain."

09/11/11

Pria Perhatian Lebih Memuaskan Saat Bercinta


Apakah suami Anda pendengar yang baik? Jika ya, berarti ada kemungkinan si dia juga hebat saat bercinta. Para ilmuwan mengatakan, pria pengertian dan mau mendengarkan pendapat orang mampu memberikan kehidupan seks yang lebih baik bagi pasangannya, dibandingkan pria yang memikirkan diri sendiri.

Hal ini terungkap berdasarkan penelitian yang dilakukan John Hopkins Bloomberg School of Public Health di Amerika, kepada 3.237 responden berusia 18-26 tahun. Studi tersebut menemukan bahwa pria yang memiliki kemampuan berkomunikasi dan mau mendengarkan pendapat orang lain, cenderung lebih bisa membuat pasangannya orgasme.

Penelitian tersebut menganalisa hubungan antara kepribadian seseorang dan tingkat kenikmatan seksual. Ada tiga faktor yang menjadi ukuran bagaimana seseorang bisa membuat pasangannya bahagia: menghargai diri sendiri dan orang lain, kemandirian dan empati.

Faktor-faktor tersebut kemudian dihubungkan dengan tiga hal yang biasanya menentukan kepuasan seks seseorang, yaitu keteraturan orgasme, kenikmatan saat menerima foreplay dan kenikmatan memberikan foreplay pada pasangan.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa kenikmatan seksual pada wanita, sangat dipengaruhi oleh besarnya rasa empati pasangan kepadanya. Dari studi tersebut diketahui, pria yang peka dan perhatian cenderung memiliki respon cepat terhadap apa yang diinginkan pasangannya saat bercinta, sehingga meningkatkan kepuasan seks pada wanita.

Studi tersebut juga berhasil menemukan fakta bahwa wanita dengan kepercayaan diri dan kemandirian tinggi pun lebih nyaman menikmati momen bercinta mereka. Hasil penelitian ini, tentu saja bisa menjadi masukan yang patut direferensikan untuk membantu para wanita mendapatkan kualitas seks lebih baik.

"Hasil penelitian ini mungkin bisa berguna bagi para wanita. Kepercayaan diri membuat mereka berani berkomunikasi dan mengekplorasi seks dengan pasangan mereka," jelas Ketua Penelitian Adena Galinsky, seperti dikutip dari Daily Mail.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Artikel Menarik lain